Featured

First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Advertisements

Kyai Boleh Berharta

الدنيا متاع

Harta adalah fitnah, sekaligus ujian bagi empunya. Sehingga, para hartawan memiliki banyak pemuja dan pembenci. Di sisi lain, kefakiran mendekati kekafiran. Kesimpulan sementara, kaya dan miskin sama-sama berbahaya bagi kualitas iman.

Benarkah kekayaan dan kefakiran menjadikan seseorang jauh dari Allah SWT? Penganut positivisme memandang tidak demikian. Banyak Kyai-kyai mobilnya keren-keren dan kediamannya bertingkat. Malah, justru semakin kaya.

Kyai kok bisa kaya? Jangan beranggapan mereka hanya duduk-duduk saja. Berdoa saja. Kekayaan bagi mereka bukanlah tujuan, tetapi sebagai sarana. Tak ada niatan mengejar dunia, justru mereka mengejar yang menciptakan dunia. Dzat yang mengatur rejeki dan dunia. Itulah sebabnya, dunia bagi mereka adalah budak mereka.

Sayangnya, di masyarakat terjadi perbedaan dalam penghormatan terhadap kyai. Kyai Kaya seolah lebih berkharisma dan berwibawa dibandingkan kyai tak berharta. Bahkan lebih ekstrem lagi, hartawan lebih terhormat dibanding guru ngaji. Lihatlah saja dalam majelis-majelis halaqah pedesaan. Kaum hartawan ditempatkan di tempat atas bersama dengan tokoh masyarakat (kyai). Sementara, guru ngaji berada di teras bagian bawah.

Maka sesungguhnya, harta itu memang fitnah selama pemiliknya jauh dari “mengenal” Allah dan Rasulnya.

Gitu Aja Kok Repot

Ketemu dosen yang gila ilmu. Karya tulisnya lumayan berjibun. Ia datang dan memandang kami sekelas dengan khidmat. Sambil bilang, “S2 itu: Santai-sukses”. Kami bertanya dengan khidmah dalam hati. Tentu ada maksud di balik itu semua. Santai dalam makna yang berbeda dari yang kita pahami, begitu juga dengan “sukses”.

Belajar adalah wajib, itulah prinsip yang seharusnya dipegang teguh. Bahkan, apa yang dihukumi demikian, maka hal yang menghantarkan kepada usaha tersebut juga wajib. Membaca wajib dan menulis juga wajib. Artinya, dalam 24 jam penggunaan waktu untuk belajar perlu sekali dimaksimalkan. agar tidak membebani, anggaplah belajar itu cemilan, makanan sehat pikiran setiap waktu. Jika masih kesulitan, paksakanlah, teruslah keluar dari zona nyaman.

KH. Djazuli Utsman menjadikan belajar sebagai thoriqoh. Beliau benar-benar Istiqomah di dalam belajar dan mengajar, bahkan hingga akhir hayatnya. Maka yang dibutuhkan sebenarnya adalah kesadaran dan memaksakan diri membiasakan apa yang masih baru: semisalnya sebelumya terbiasa santai-santai dan leha-leha.

Karena itulah, dibutuhkan niat yang kuat dan komitmen yang mengakar. “Lebih baik ga sama sekali daripada setengah-setengah”.

MGM | Bangkalan, 24 Desember 2017
http://www.gusmakruf.com

Paksakan

Paksakan

Seseorang adalah apa yang selalu dipikirkannya, dirasakannya dan dibiasakan oleh dirinya.

Pendekatan secara personal oleh murobby terhadap anak didiknya lebih efisien dibandingkan di dalam kelas. Ikatan emosional disinyalir sebagai penyebabnya. Inilah yang saya rasakan ketika di pesantren ataupun di sekolahan. 

Kemarin sore bertemu dosen, ia tak langsung memberi materi. Mahasiswanya yang datang cuma satu orang, ada yang telat dan izin. Ia bertanya soal agama dan juga tak malu mengakui bahwa dirinya di umur 50 tahun baru bisa khatam al-Quran. Meski begitu, kedisiplinan dirinya dan komitmennya benar-benar patut dicontoh. 

Ia katakan, awalnya seseorang harus berusaha keluar dari zona nyaman. Tentu, rasanya memang menyakitkan, memalukan dan mendebarkan. Seseorang cenderung akan menyerah pada kondisi demikian. Oleh sebab itu, “paksakan” dengan kesungguhan komitmen. Enak tidak enak tetap harus dijalankan.

Paksakan agar pelaksanaan kegiatan berlangsung setiap waktu, sehingga menjadi terbiasa. Sehingga proses selanjutnya adalah “internalisasi” respon-respon lingkungan ataupun persepsi diri sehingga membentuk konsep diri. Barulah kemudian, terbentuklah “perubahan”. 

Seperti bersepeda, berhenti mengayuh di tengah jalan raya adalah kematian. Dan seseorang, berhenti berubah dan bergerak pasti lambat laun akan binasa. 

Renungan

Tetesan gerimis hujan menempel pada jendela kaca. Ada seribu pertanyaan tersimpan baik oleh stimulus kehidupan. Terkuadratkan oleh keresahan dan kebimbangan. Sementara, becak-becak berlalu lalang di hadapan. Setia menanti beberapa ribu recehan. 

Ribuan kayuhan diawali dua-empat kayuhan yang berat. Gengsi dan kebutuhan berkecamuk saling berbagi argumentasi. Toh akhirnya, “inilah garis hidupku”. Mereka benar-benar terjebak oleh keberingasan kehidupan: yang cerdas, cerdas mengakali orang tak cerdas dan yang kaya, cerdas menambah “pemasukannya” dengan memanfaatkan orang miskin. 

Soeren Kiekegard sebagai tokoh eksistensial mendukung pekerja demikian. Yaitu, mereka yg menyadari keberadaan dirinya dan berusaha untuk mewujudkannya. Daripada menyerah kepada kehidupan, berpangku tangan dan mengadahkannya kepada orang lain, bekerja adalah harga muthlak.