Renungan

Tetesan gerimis hujan menempel pada jendela kaca. Ada seribu pertanyaan tersimpan baik oleh stimulus kehidupan. Terkuadratkan oleh keresahan dan kebimbangan. Sementara, becak-becak berlalu lalang di hadapan. Setia menanti beberapa ribu recehan. 

Ribuan kayuhan diawali dua-empat kayuhan yang berat. Gengsi dan kebutuhan berkecamuk saling berbagi argumentasi. Toh akhirnya, “inilah garis hidupku”. Mereka benar-benar terjebak oleh keberingasan kehidupan: yang cerdas, cerdas mengakali orang tak cerdas dan yang kaya, cerdas menambah “pemasukannya” dengan memanfaatkan orang miskin. 

Soeren Kiekegard sebagai tokoh eksistensial mendukung pekerja demikian. Yaitu, mereka yg menyadari keberadaan dirinya dan berusaha untuk mewujudkannya. Daripada menyerah kepada kehidupan, berpangku tangan dan mengadahkannya kepada orang lain, bekerja adalah harga muthlak. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s