Paksakan

Paksakan

Seseorang adalah apa yang selalu dipikirkannya, dirasakannya dan dibiasakan oleh dirinya.

Pendekatan secara personal oleh murobby terhadap anak didiknya lebih efisien dibandingkan di dalam kelas. Ikatan emosional disinyalir sebagai penyebabnya. Inilah yang saya rasakan ketika di pesantren ataupun di sekolahan. 

Kemarin sore bertemu dosen, ia tak langsung memberi materi. Mahasiswanya yang datang cuma satu orang, ada yang telat dan izin. Ia bertanya soal agama dan juga tak malu mengakui bahwa dirinya di umur 50 tahun baru bisa khatam al-Quran. Meski begitu, kedisiplinan dirinya dan komitmennya benar-benar patut dicontoh. 

Ia katakan, awalnya seseorang harus berusaha keluar dari zona nyaman. Tentu, rasanya memang menyakitkan, memalukan dan mendebarkan. Seseorang cenderung akan menyerah pada kondisi demikian. Oleh sebab itu, “paksakan” dengan kesungguhan komitmen. Enak tidak enak tetap harus dijalankan.

Paksakan agar pelaksanaan kegiatan berlangsung setiap waktu, sehingga menjadi terbiasa. Sehingga proses selanjutnya adalah “internalisasi” respon-respon lingkungan ataupun persepsi diri sehingga membentuk konsep diri. Barulah kemudian, terbentuklah “perubahan”. 

Seperti bersepeda, berhenti mengayuh di tengah jalan raya adalah kematian. Dan seseorang, berhenti berubah dan bergerak pasti lambat laun akan binasa. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s