Kyai Boleh Berharta

الدنيا متاع

Harta adalah fitnah, sekaligus ujian bagi empunya. Sehingga, para hartawan memiliki banyak pemuja dan pembenci. Di sisi lain, kefakiran mendekati kekafiran. Kesimpulan sementara, kaya dan miskin sama-sama berbahaya bagi kualitas iman.

Benarkah kekayaan dan kefakiran menjadikan seseorang jauh dari Allah SWT? Penganut positivisme memandang tidak demikian. Banyak Kyai-kyai mobilnya keren-keren dan kediamannya bertingkat. Malah, justru semakin kaya.

Kyai kok bisa kaya? Jangan beranggapan mereka hanya duduk-duduk saja. Berdoa saja. Kekayaan bagi mereka bukanlah tujuan, tetapi sebagai sarana. Tak ada niatan mengejar dunia, justru mereka mengejar yang menciptakan dunia. Dzat yang mengatur rejeki dan dunia. Itulah sebabnya, dunia bagi mereka adalah budak mereka.

Sayangnya, di masyarakat terjadi perbedaan dalam penghormatan terhadap kyai. Kyai Kaya seolah lebih berkharisma dan berwibawa dibandingkan kyai tak berharta. Bahkan lebih ekstrem lagi, hartawan lebih terhormat dibanding guru ngaji. Lihatlah saja dalam majelis-majelis halaqah pedesaan. Kaum hartawan ditempatkan di tempat atas bersama dengan tokoh masyarakat (kyai). Sementara, guru ngaji berada di teras bagian bawah.

Maka sesungguhnya, harta itu memang fitnah selama pemiliknya jauh dari “mengenal” Allah dan Rasulnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s