Istidroj

ISTIDROJ itu Azab Yang Diundur- undur oleh ALLAH Ta’ala, Namun ALLAH Tetap memberikan kita :

1). *Harta Yang Berlimpah;*
Padahal Tidak Pernah Bersedekah.

2). *REZEKI BERLIPAT-LIPAT;*
Padahal Jarang Shalat, Tidak Senang pada Nasihat Ulama, dan Terus Berbuat Maksiat..

3). *DIKAGUMI, DIHORMATI;*
Padahal Akhlak Bejat.

4). *DIIKUTI, DITELADANI dan DIIDOLAKAN;*
Padahal Bangga Mengumbar Aurat Dalam Berpakaian..

5). *SANGAT JARANG DIUJI SAKIT;*
Padahal Dosa-Dosa Menggunung dan Membukit.

6). *TIDAK PERNAH DIBERIKAN MUSIBAH;* Padahal Gaya Hidupnya Sombong, Meremehkan Manusia, Angkuh….

7). *ANAK-ANAK SEHAT-SEHAT, CERDAS-CERDAS;* Padahal Diberikan Makan Dari Harta Hasil Yang Haram (Menipu, Korupsi, Riba’, dll )..

8). *HIDUP BAHAGIA PENUH CANDA TAWA;* Padahal, Banyak Orang Karenanya Ternoda dan Terluka.

9. *KARIRNYA TERUS MENANJAK;*
Padahal Banyak Hak Orang Yang Diinjak-Injak..

10. *SEMAKIN TUA SEMAKIN MAKMUR;* Padahal Berkubang Dosa Sepanjang Umur..

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala., berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Artinya:

“Maka TatkalaMereka Melupakan Peringatan yang telah diberikan kepada mereka, KAMI pun Membukakan Semua Pintu-Pintu Kesenangan Untuk Mereka; Sehingga apabila Mereka Bergembira Dengan Apa yang Telah Diberikan Kepada Mereka,KAMI Siksa Mereka Dengan Sekonyong-Konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
(QS. AL-‘AN’ĀM : 44 )

RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.,bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika Kamu Melihat ALLAH Memberikan Dunia Kepada Seorang Manusia Pelaku Maksiat, Dengan Sesuatu YANG ia (pelaku maksiat) Sukai, Maka Sesungguhnya Itu adalah ISTIDRAJ.”
(HR. AHMAD )

Janganlah kita Silau,iri,dengki Dengan Kesuksesan dan Kemegahan Yang Ditampilkan Seseorang sebab bisa jadi sesungguhnya ia sedang tertimpa istidraj tanpa di sadarinya.

Syukurilah apa yang telah kita miliki walau dalam keadaan sederhana.yang kita kita tetap ikhtiar,berdoa dan tawakkal atas ujian Allah.

Andai kita sudah Beramal Sholeh,Namun Kita Masih Diberi cobaan, Maka sebenarnya Itulah Tanda Kasih Sayang ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala pada Hamba-Hamba-NYA,Berupa Keringanan Dosa dan Menuju Ampunan-NYA.

Sesungguhnya hidup ujian Allah terhadap keimanan dan hawa napsu manusia apakah ia ingat Allah pada saat susah maupun senang.

Istidrâj = Solakan , solak , dilulu

Advertisements

Urgensi Guru

Ada maqolah ulama yang berbunyi :

مَنْ تَعَلَّمَ اْلعِلْمَ وَلَيْسَ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ شَيْطَانٌ

“Barang siapa yang belajar ilmu namun tidak berguru, maka gurunya adalah setan”

Bahkan Imam Bukhari yang terkenal ahli hadits jumlah gurunya sampai 1.080 orang.

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam kitabya Minhajul ‘Abidin ilaa Janhati Rabbil ‘Alamiin, halaman 8 berkata :

فَاعْلَمْ أَنَّ الْأُسْتَاذَ فَاتِحٌ وَمُسَهِّلٌ، وَالتَّحْصِيْلُ مَعَهُ أَسْهَلُ وَأَرْوَحُ

“Ketahuilah olehmu, bahwasanya guru itu adalah pembuka (yang tertutup) dan memudahkan (yang rumit). Mendapatkan ilmu dengan adanya bimbingan guru akan lebih mudah dan lebih menyenangkan.”

Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqaf dalam kitabnya (Al-Fawaaidul Makkiyyah, halaman 25) berkata :

إِنَّ الْمَشِيْخَةَ شَأْنُهَا عَظِيْمٌ وَأَمْرُهَا عَالٍ جَسِيْمٌ

“Sesungguhnya guru itu kedudukannya sangat penting dan peranannya amat tinggi lagi besar.”

Al-Habib Ahmad bin Abi Bakar Al-Hadhrami dala kitab (manhalul Wurraadi min Faidhil Imdaadi, hal 102) berkata :

إِنَّ اْلأَخْذَ مِنْ شَيْخٍ لَهُ تَمَامُ الْإِطِّلَاعِ مِمَّا يُتَعَيَّنُ عَلَى طَالِبِ الْعِلْمِ، وَأَمَّا مُجَرَّدُ اْلمُطَالَعَةِ بِغَيْرِ شَيْخٍ إِتِّكَالًا عَلَى اْلفَهْمِ فَقَلِيْلَةُ الْجَدْوَى إِذْ لَابُدَّ أَنْ تَعْرِضَ عَلَيْهِ مُشْكِلَاتٌ تَتَّضِحُ لَهُ إِلَّا إِنْ حَلَّهَا شَيْخٌ

“Bahwasanya mengambil ilmu dari seseorang guru yang sempurna penelaahannya itu dipandang penting bagi orang yang menuntut ilmu. Dan adapun semata-mata muthala’ah tanpa ada bimbingan dari guru karena mengandalkan pemahaman sendiri saja, maka sedikit hasilnya. Karena jika dia menemukan kerumitan-kerumitan, tidak akan jelas baginya kecuali adanya uraian dari guru.”

Dalam kitab Al-Fawaaidul Makkiyyah, halaman 25 dan kitab Taudhihul Adillah, juz III, halaman 147, terdapat syair :

مَنْ يَأْخُذِ الْعِلْمَ عَنْ شَيْخٍ مُشَافَهَةً # يَكُنْ عَنِ الزَّيْغِ وَالتَّحْرِيْفِ فِى حَرَمٍ

“Barang siapa yang mengambil ilmu dari seorang guru secara langsung bergadap-hadapan # niscaya akan terjagalah dia dari kesesatan dan kekeliruan”

وَإِنَّ بْتِغَاءَ اْلعِلْمِ دُوْنَ مُعَلِّمٍ # كَمُوْقِدِ مِصْبَاحٍ وَلَيْسَ لَهُ دُهْنٌ

Dan bahwasanya menuntut ilmu tanpa ada bimbingan dari guru # Laksana seseorang yang menyalakan pelita, padahal pelita itu tidak berminyak.

كُلُّ مَنْ يَطْلُبُ اْلعُلُوْمَ فَرِيْدًا # دُوْنَ شَيْخٍ فَإِنَّهُ فِى ضَلَالٍ

Setiap orang yang menuntut ilmu secara tersendiri # tanpa guru, maka sesungguhnya dia berada dalam kesesatan.

Refrensi: berbagai sumber

Kyai Boleh Berharta

الدنيا متاع

Harta adalah fitnah, sekaligus ujian bagi empunya. Sehingga, para hartawan memiliki banyak pemuja dan pembenci. Di sisi lain, kefakiran mendekati kekafiran. Kesimpulan sementara, kaya dan miskin sama-sama berbahaya bagi kualitas iman.

Benarkah kekayaan dan kefakiran menjadikan seseorang jauh dari Allah SWT? Penganut positivisme memandang tidak demikian. Banyak Kyai-kyai mobilnya keren-keren dan kediamannya bertingkat. Malah, justru semakin kaya.

Kyai kok bisa kaya? Jangan beranggapan mereka hanya duduk-duduk saja. Berdoa saja. Kekayaan bagi mereka bukanlah tujuan, tetapi sebagai sarana. Tak ada niatan mengejar dunia, justru mereka mengejar yang menciptakan dunia. Dzat yang mengatur rejeki dan dunia. Itulah sebabnya, dunia bagi mereka adalah budak mereka.

Sayangnya, di masyarakat terjadi perbedaan dalam penghormatan terhadap kyai. Kyai Kaya seolah lebih berkharisma dan berwibawa dibandingkan kyai tak berharta. Bahkan lebih ekstrem lagi, hartawan lebih terhormat dibanding guru ngaji. Lihatlah saja dalam majelis-majelis halaqah pedesaan. Kaum hartawan ditempatkan di tempat atas bersama dengan tokoh masyarakat (kyai). Sementara, guru ngaji berada di teras bagian bawah.

Maka sesungguhnya, harta itu memang fitnah selama pemiliknya jauh dari “mengenal” Allah dan Rasulnya.

Gitu Aja Kok Repot

Ketemu dosen yang gila ilmu. Karya tulisnya lumayan berjibun. Ia datang dan memandang kami sekelas dengan khidmat. Sambil bilang, “S2 itu: Santai-sukses”. Kami bertanya dengan khidmah dalam hati. Tentu ada maksud di balik itu semua. Santai dalam makna yang berbeda dari yang kita pahami, begitu juga dengan “sukses”.

Belajar adalah wajib, itulah prinsip yang seharusnya dipegang teguh. Bahkan, apa yang dihukumi demikian, maka hal yang menghantarkan kepada usaha tersebut juga wajib. Membaca wajib dan menulis juga wajib. Artinya, dalam 24 jam penggunaan waktu untuk belajar perlu sekali dimaksimalkan. agar tidak membebani, anggaplah belajar itu cemilan, makanan sehat pikiran setiap waktu. Jika masih kesulitan, paksakanlah, teruslah keluar dari zona nyaman.

KH. Djazuli Utsman menjadikan belajar sebagai thoriqoh. Beliau benar-benar Istiqomah di dalam belajar dan mengajar, bahkan hingga akhir hayatnya. Maka yang dibutuhkan sebenarnya adalah kesadaran dan memaksakan diri membiasakan apa yang masih baru: semisalnya sebelumya terbiasa santai-santai dan leha-leha.

Karena itulah, dibutuhkan niat yang kuat dan komitmen yang mengakar. “Lebih baik ga sama sekali daripada setengah-setengah”.

MGM | Bangkalan, 24 Desember 2017
http://www.gusmakruf.com

Paksakan

Paksakan

Seseorang adalah apa yang selalu dipikirkannya, dirasakannya dan dibiasakan oleh dirinya.

Pendekatan secara personal oleh murobby terhadap anak didiknya lebih efisien dibandingkan di dalam kelas. Ikatan emosional disinyalir sebagai penyebabnya. Inilah yang saya rasakan ketika di pesantren ataupun di sekolahan. 

Kemarin sore bertemu dosen, ia tak langsung memberi materi. Mahasiswanya yang datang cuma satu orang, ada yang telat dan izin. Ia bertanya soal agama dan juga tak malu mengakui bahwa dirinya di umur 50 tahun baru bisa khatam al-Quran. Meski begitu, kedisiplinan dirinya dan komitmennya benar-benar patut dicontoh. 

Ia katakan, awalnya seseorang harus berusaha keluar dari zona nyaman. Tentu, rasanya memang menyakitkan, memalukan dan mendebarkan. Seseorang cenderung akan menyerah pada kondisi demikian. Oleh sebab itu, “paksakan” dengan kesungguhan komitmen. Enak tidak enak tetap harus dijalankan.

Paksakan agar pelaksanaan kegiatan berlangsung setiap waktu, sehingga menjadi terbiasa. Sehingga proses selanjutnya adalah “internalisasi” respon-respon lingkungan ataupun persepsi diri sehingga membentuk konsep diri. Barulah kemudian, terbentuklah “perubahan”. 

Seperti bersepeda, berhenti mengayuh di tengah jalan raya adalah kematian. Dan seseorang, berhenti berubah dan bergerak pasti lambat laun akan binasa. 

Renungan

Tetesan gerimis hujan menempel pada jendela kaca. Ada seribu pertanyaan tersimpan baik oleh stimulus kehidupan. Terkuadratkan oleh keresahan dan kebimbangan. Sementara, becak-becak berlalu lalang di hadapan. Setia menanti beberapa ribu recehan. 

Ribuan kayuhan diawali dua-empat kayuhan yang berat. Gengsi dan kebutuhan berkecamuk saling berbagi argumentasi. Toh akhirnya, “inilah garis hidupku”. Mereka benar-benar terjebak oleh keberingasan kehidupan: yang cerdas, cerdas mengakali orang tak cerdas dan yang kaya, cerdas menambah “pemasukannya” dengan memanfaatkan orang miskin. 

Soeren Kiekegard sebagai tokoh eksistensial mendukung pekerja demikian. Yaitu, mereka yg menyadari keberadaan dirinya dan berusaha untuk mewujudkannya. Daripada menyerah kepada kehidupan, berpangku tangan dan mengadahkannya kepada orang lain, bekerja adalah harga muthlak.